Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label MUTIARA HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUTIARA HIKMAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2010



Gersang bumi tanpa hujan

Gersang akal tanpa ilmu

Gersang hati tanpa iman

Gersang jiwa tanpa amal

Marhaban ya ramadhan…






Jika semua harta adalah racun, maka zakatlah penawarnya.
Jika seluruh umur adalah dosa, maka tobatlah obatnya. Jika seluruh bulan adalah noda, maka Ramadhan lah pemutihnya.
Read More..

Jumat, 05 Februari 2010

Hati atau Pikiran


Bagi pembaca tentunya merasa tanggung karena topik terasa bercampur, sebagaimana anda menonton tayangan TV tentunya tidak puas dengan satu acara saja bukan, begitu juga menu sehari-hari. Bukan maksud memecah konsentrasi, namun melihat agama Islam yang sangat luas tentu diperlukan berbagai aspek, satu aspek yang dibuka tanpa diimbangi dengan aspek yang lain tentunya gambaran global tentangnya sebagai satu bangunan yang sempurna tidaklah dapat diperoleh. Selalu ada dua pertimbangan yang menjadikan langkah kita selaras sebagaimana kaki kanan dan kaki kiri, begitu juga mata, telinga dan pasangan-pasangan lainnya sebagaimana CiptaanNYA berpasang-pasang walaupun dalam satu tubuh dan hanya Allohlah yang Esa lagi tidak ada seorangpun yang setara dengan DIA.
Untuk menegaskan esensi antara menentukan hati atau pikiran adalah bahasan yang cukup panjang, tanpa pelaksanaan yang sungguh-sungguh dengan harap dan cemas niscaya tidaklah kita dapat menempatkannya dengan baik dalam segala keterbatasan diri yang senantiasa bergantung kepadaNYA.

Sebuah analogi :
Ketika seseorang berada pada jamuan Sang Raja dengan hidangan yang segalanya ada, niscaya ia akan bingung dengan banyaknya pilihan. Maksud hati ingin cepat-cepat membungkus dan segera membawa pulang untuk dibagikan kepada sanak famili, sang Raja mencegah. "Wahai fulan bagaimana mungkin engkau hendak membungkusnya sedangkan perjalanmu cukup jauh, pastilah engkau memakan bekal itu diperjalanan, makanlah dahulu dan cukupkan untuk dirimu, dan janganlah engkau terlalu kenyang ambilah bekal yang banyak seberapa engkau mampu mengangkatnya." Demikianlah titah Raja yang bijak.

Bukan maksud hati hendak membuat ngiler, namun itulah sebuah analogi untuk menggambarkan betapa banyak menu-menu yang Alloh sediakan bagi hamba yang bertamu ke istanaNYA. Sebagai gambaran betapa nikmatnya rasa iman dan betapa banyak cabang-cabang ilmu yang senantiasa membuat haus dan serasa semakin lapar. Walaupun jika dihadapkan pada pertanyaan "seperti apakah manisnya iman itu?", tidak bisa dijawab atau dilukiskan dengan kata-kata.

Hati & Pikiran
------------------

Rosululloh saw menitipkan dua pusaka kepada kita, Al-Qur'an dengan As-Sunah, secara garis besar bolehlah dikatakan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk/buku manual/panduan sedangkan sunah adalah penerapan/pelaksanaan/ketetapannya (amalan), jika kurang yakin boleh meminta referensi kepada yang lain. Yang mana sejauh penelusuran saya kata sunnah tidak ada padanannya karena maknanya jamak. Untuk mengilustrasikannya saya ambil analogi : Ibarat perjalanan hidup, Al-Qur'an adalah petanya, sedangkan hadist adalah diary (catatan) seseorang yang telah selamat (salam) sampai tujuan yaitu Rosululloh saw. Perjalanan itu adalah menuju keridhoanNYA, jika melihat perjalanan sejarahnya esensi Islam sebagai satu-satunya jalan yang diridhoiNYA adalah agama tauhid yang satu sejak nabi adam hingga kini, hanya saja pada masanya hanya satu orang saja yang terpilih yaitu hamba terbaik yang menjadi teladan. Yaitu hamba yang disucikan pengertian disucikanNYA adalah hak preogratif Alloh swt yang Maha Mengenal lagi Maha Mengetahui untuk menentukannya. Kemudian hamba terpilih itu setelah mencapai keridhoanNYA diberi mandat/tuntunan tentang syariat, sebagaimana perintah Sholat dalam kurun waktu yang cukup lama melalui berbagai rintangan yang berat. Bagi watak pecundang tentulah mengerti ketika terpilihnya saja, tidak memahami arti perjuangan yang berat tersebut. Jika kita sering membaca secara Rosululloh saw tentulah turut merasakan betapa berat, apalagi yang merasakan langsung dengan menirunya; mengikuti jejaknya apapun resikonya. Hanya pembatasnya bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, tidak ada lagi syariat setelahnya. Sehingga yang lain (umatnya) hanya bisa melestarikannya atau menyambung shaffnya, apapun yang bertentangan dengan perintahnya adalah 'bid'ah'. (> saya kasih tanda kutip untuk disimpan).

Mungkin pengertian ini terasa asing, anda akan menanyakan darimana saya mendapatkan kesimpulan seperti itu? Sekarang saya analogikan : ada dua orang berselisih antara si A dan si B, namun keduanya sama-sama tidak mengerti bahasa lawannya, si A tidak tahu bahasa si B, begitu juga sebaliknya. Sedangkan si C-lah yang tahu bahasa keduanya. Untuk menerangkan ke si A si C mewakili si B, begitu juga sebaliknya ketika menerangkan ke si B. Dalam artian ketika kita memaknai Al-Qur'an antara hamba (A) dengan Tuhan (B) hanya ada dua bahasa penjelasan, penjelasan pertama mewakili hamba... disinilah penjabarannya menjadi banyak, sedangkan Al-Qur'an sebagai kalamNYA adalah esensi/inti yang lugas, jelas dan tandas, dalam arti kata lain intisari dari segala persoalan, apapun yang orang mahu tahu disitu ada, dari pertanyaan, penggugah, pengingat, ancaman, jawaban, doa, dsb. sudah sumpurna. Maka apabila ada penambahan ataupun pengurangan niscaya ketahuan apabila dapat melihatnya secara global dan dalam tahapan pemahaman yang lebih tinggi, yang mampu mengenali mana yang sejalan dan mana yang menyimpang. Dari jalan yang lurus dan tidak sedikitpun bengkok, hanya saja jalan itu begitu halus.

Sejauh mana orang mampu berpikir disitu diterangkan semua, namun manusia suka kelewat batas dengan mereka-reka (meraba-raba) tanpa panduan/penerangan. Ataupun dapat penerangan namun tahapanya belum. Ibarat pokok kurma atau kelapa buahnya akan tetap berada diatas namun batangnya tetap satu, setahap demi setahap dan terus menjulang.
Read More..

Rabu, 23 Desember 2009

Hikmah Mati Lampu


Mati Lamu... duhai gelapnya...Mati AC... duhai gerahnya...Ups jadi kayak lagu dangdut.....
Begitulah dunia dengan segala keterbatasanya senantiasa mengingatkan kita akan hal-hal yang selama ini mungkin lupa untuk kita syukuri. Padamnya listrik tentu bukan hal positif, akan tetapi cukup mengingatkan kita untuk menyadari betapa nikmatnya listrik yang selama ini kita nikmati. Dimana sakit akan mengingatkan kita akan nikmatnya sehat, litrikpun demikian, dengan muatanya yang positif dan negatif, memberikan manfaat pada kehidupan namun tak sedikit pula kejahatan karenanya. Tentunya semua tidak lepas dari pengunanya. Listrik kedudukanya sama dengan ilmu, tepat sekali jika ilmu dianalogikan sebagai air. Teh, kopi, sirup tidak mungkin dinikmati tanpa air. Kedudukan air tetap murni/suci tinggal bagaimana memanfaatknya. Jika listrik mempunyai muatan positif dan negatif tidak ubahnya ilmu dimana kita mengenal kebaikan dan keburukan juga dengan ilmu. Jika kita hanya mengenali kebaikan tanpa mempedulikan keburukan dapat diibaratkan melangkah yang memerlukan kaki kanan dan kiri, tentulah jalan akan pincang jika hanya mengandalkan sebelah kaki saja. Menghendaki pahala (buah) namun enggan menanam, apalagi memupuk dan menyiraminya. Salahkah bila buah gugur?..

Satu hal yang sangat menarik mungkin kita kurang menyadarinya, dimana mukjizat terbesar Rosululloh adalah Al-Qur'an = Kalamulloh. Kita mengenal adanya sejarah (manusia mengenal tulisan) dan prasejarah (belum mengenal tulisan). Dalam Al-Qur'an = Qur'an sering disebut sebagai Kitab (buku). Dimana sejarah pencatatnya (himpunan/mushaf) adalah yang terbaik dan tak perlu diragukan lagi kemurniannya. Sebagai suatu kitab yang sempurna, tanpa campur tangan manusia mengenai isinya. Yang demikian ini tidak terjadi pada kitab-kitab sebelumnya. Dan diturunkan dalam bahasa Arab yang memiliki struktur bahasa yang sempurna.


Namun sangat disayangkan jika ilmu pengetahuan Barat lebih mendominasi ranah keilmuan kita. Bangsa Arab (Timur-Tengah) gagal sebagai leader Ilmu Pengetahuan yang sebelumnya sempat pesat, kesemuanya tidak lepas dari fitnah dan goncangan demi goncangan yang menerpa Islam. Dan keengganan kita sendiri untuk memperjuangkan Risalah ini. Lihatlah nasib guru ngaji yang tak pernah menuntut upah, dan banyak lagi hak-hak mereka yang tidak kita penuhi, kita lupa untuk mengenali sifat-sifat mereka. Karena kita terlanjur menyisihkan agama sebagai urusan akhirat belaka, memisahkannya dengan urusan dunia. Memecah kayu diatas kuburan... (ups sejauh itukah?) well see...

Jika kita melihat Al-Qur'an secara global, apa yang dikatakan Ahli Kitab, tentunya tidak hanya dinisbatkan kepada orang Nasrani, ataupun Yahudi saja. Dalam artian siapapun yang mempelajari Kitabulloh (rukun iman).
Mari kita telusuri penamaan Al-Qur'an, sebagian besar ulama berpendapat bahwa asal kata qara'a (membaca) dimana wahyu pertama turun dengan perintah "baca". Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rosul diperintah untuk membacakan kepada umatnya. Dan kita mengenalinya sekarang berupa Kitab untuk dibaca. Penamaan Qur'an sendiri belum pernah dipakai atau ada pada Arab Jahiliah. Dan banyak lagi istilah-istilah baru yang dikenalkan Rosululloh, begitu juga dalam Al-Qur'an sendiri. Disinilah mukjizat sebenarnya yang memang Qur'an dipersiapkan untuk umat akhir zaman sudah menyangkut berbagai aspek sebagai berita seluruh alam. Jika ditelusuri mendetail adalah titik balik sejarah untuk mengenali masa lampau yang kesemuanya tercatat dalam kitab yang nyata (dalam Lohmafus). Seberapa nyatakah?

Dimensi Qur'an sangat luas dari awal penciptaan sampai akhirat. Yang gaib maupun yang nyata; hanya dalam satu kitab yang bercahaya yang memiliki tingkatan makna, sebagaimana 7 langit telah diciptakan. Allohuakbar...

Mari kita telusuri :

"Allah menamakan keseluruhan kitab-Nya dengan Qur’an, sementara bangsa Arab menamakan keseluruhannya karyanya dengan istilah Dîwân. Bagian dari al-Qur’an disebut surah, sementara dalam kalam Arab disebut qashîdah. Bagian yang lebih kecil lagi disebut ayat, sementara dalam kalam Arab disebut bait. Selanjutnya, bagian akhir ayat dinamai fâshilah, sementara hal serupa dalam kalam Arab disebut qâfiyah.1 Keunikan ini juga dikarenakan sifat hakikat bahasa yang terkandung dalam al-Qur’an sendiri yang memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi bahasa lainnya dalam komunikasi antar umat manusia." dikutip dari http://www.scribd.com/doc/16766939/MELACAK-ASALUSUL-KATA-ALQURAN">http://www.facebook.com/l/4fc04;>http://www.scribd.com/doc/16766939/MELACAK-ASALUSUL-KATA-ALQURAN..

Sekarang bandingkan dengan bahasa Indonesia :
Kata "sejarah" secara harafiah berasal dari kata Arab (šajarah) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri sejarah disebut (tarikh). Kata "tarikh" dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah "waktu". Ilmu Sejarah juga disebut sebagai Ilmu Tarikh atau Ilmu Babad.
Jika kita telusuri sejarah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu, jika diibaratkan sungai bahasa Indonesia seperti muara dimana berbagai arus pengetahuan bertemu antara arab, cina dan india dan peninggalan penjajah (barat). Namun kesastraan Arab sangat dominan, walaupun arti katanya kadang berbeda jauh namun jika diambil suatu lingkaran menjadi bulat. Jika anda jeli dalam kaitan ini adalah sajarah (pohon), pahala (buah) dan akan lebih lengkap lagi jika kita terus gali asal-usul kata. Dimana saya mengisyaratkan akan Kalam dalam pengertian seluas-luasnya adalah jembatan antara Alam dengan Ilmu, masing-masing punya jejak dan saling menguatkan jika ditinjau dari Ruang-Gerak-Waktunya.

Semakin menarik bukan? Yuk kita browshing asal-usul (etimologi), walaupun ada asal-usul yang kadang ngasal, Insya Alloh kita akan bisa membedakannya...Maha benar Alloh atas segala firmanNYA dalam Al-Quranulkarim...
Read More..

Selasa, 08 September 2009

Menghabiskan Waktu Ramadhan dengan Tidur Siang


Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yg kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yg berbunyi :

“Tidurnya orang yg berpuasa adalah ibadah”

Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dgn pedoman hadits diatas, namun tidur yg bagaimana yg dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yg ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.
Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila :
  • Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yg bila tidak tidur dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yg tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.
  • Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah)
  • Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih & payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yg halal, beribadah secara khusyu’ dsb
Sungguh sangat di sayangkan bahwa banyak orang yang membiasakan diri begadang sepanjang malam di bulan Ramadhan, lalu ketika telah dekat waktu terbit fajar, mereka segera makan sahur kemudian tidur sepanjang siangnya. (Dengan keadaan seperti itu), mereka meninggalkan sholat-sholat di waktu siang, padahal sholat lebih di tekankan dan lebih di wajibkan daripada puasa, bahkan tidak sah puasa orang yang tidak shalat ! Perkara ini sangat berbahaya sekali.

Pemahaman hadits diatas nyaris sama dgn pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yg berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yg tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi & kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yg berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)
Read More..

Rabu, 19 Agustus 2009

Fadhilat Tarawikh


K
ELEBIHAN SHOLAT SUNAT TARAWIH

Di riwayatkan oleh Saiyidina Ali (r.a.) daripada Rasulullah S.A.W., sebagai jawapan dari pertanyaan sahabat-sahabat Nabi S.A.W. tentang fadhilat (kelebihan) sembahyang sunat tarawih pada bulan Ramadan:


Malam 1:

Keluar dosa-dosa orang mukmin pada malam pertama sepertimana ia baru dilahirkan, mendapat keampunan dari Allah.

Malam 2:

Diampunkan dosa-dosa orang mukmin yang sembahyang tarawih serta kedua ibubapanya (sekiranya mereka orang beriman).

Malam 3:

Berseru Malaikat di bawah 'Arasy' supaya kami meneruskan sembahyang tarawih terus-menerus semoga Allah mengampunkan dosa engkau.

Malam 4:

Memperolehi pahala ia sebagaimana pahala orang-orang yang membaca kitab-kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran.

Malam 5:

Allah kurniakan baginya pahala seumpama orang sembahyang di Masjidilharam, Masjid Madinah dan Masjidil Aqsa.

Malam 6:

Allah kurniakan pahala kepadanya pahala Malaikat-malaikat yang tawaf di Baitul Ma'mur (70 ribu malaikat sekali tawaf), serta setiap batu-batu dan tanah-tanah mendoakan supaya Allah mengampunkan dosa-dosa orang yang mengerjakan sembahyang tarawih pada malam ini.

Malam 7:

Seolah-olah ia dapat bertemu dengan Nabi Musa serta menolong Nabi 'Alaihissalam menentang musuh ketatnya Fi'raun dan Hamman.

Malam 8:

Allah mengurniakan pahala orang sembahyang tarawih sepertimana yang telah dikurniakan kepada Nabi Allah Ibrahim 'Alaihissalam.

Malam 9:

Allah kurniakan pahala dan dinaikkan mutu ibadat hambanya seperti Nabi Muhamad S.A.W.

Malam 10:

Allah Subhanahuwata'ala mengurniakan kepadanya kebaikan di dunia dan akhirat.

Malam 11:

Keluar ia daripada dunia (mati) bersih daripada dosa seperti ia baharu dilahirkan.

Malam 12:

Datang ia pada hari Qiamat dengan muka yang bercahaya (cahaya ibadatnya).

Malam 13:

Datang ia pada hari Qiamat dalam aman sentosa daripada tiap-tiap kejahatan dan keburukan.

Malam 14:

Datang Malaikat menyaksikan ia bersembahyang tarawih, serta Allah tiada menyesatkannya pada hari Qiamat.

Malam 15:

Semua Malaikat yang menanggung 'Arasy, Kursi, berselawat dan mendoakan supaya Allah mengampunkan.

Malam 16:

Allahsubhanahuwata'ala tuliskan baginya terlepas daripada neraka dan dimasukkan ke dalam Syurga.

Malam 17:

Allah kurniakan orang yang bertarawih pahalanya pada malam ini sebanyak pahala Nabi-Nabi.

Malam 18:

Seru Malaikat: Hai hamba Allah sesungguhnya Allah telah redha kepada engkau dan ibubapa engkau (yang masih hidup atau mati).

Malam 19:

Allah Subhanahuwataala tinggikan darjatnya di dalam Syurga Firdaus.

Malam 20:

Allah kurniakan kepadanya pahala sekalian orang yang mati syahid dan orang-orang solihin.

Malam 21:

Allah binakan sebuah istana dalam Syurga daripada nur.

Malam 22:

Datang ia pada hari Qiamat aman daripada tiap-tiap dukacita dan kerisauan (tidaklah dalam keadaan huru-hara di Padang Mahsyar).

Malam 23:

Allah subhanahuwataala binakan kepadanya sebuah bandar di dalam Syurga daripada nur.

Malam 24:

Allah buka peluang 24 doa yang mustajab bagi orang bertarawih malam ini, (elok sekali berdoa ketika dalam sujud).

Malam 25:

Allah Taala angkatkan daripadanya siksa kubur.

Malam 26:

Allah kurniakan kepada orang bertarawih pahala pada malam ini seumpama 40 tahun ibadat.

Malam 27:

Allah kurniakan orang bertarawih pada malam ini ketangkasan melintas atas titian Sirotolmustaqim seperti kilat menyambar.

Malam 28:

Allah Subhanahuwataala kurniakan kepadanya pahala 1000 darjat di akhirat.

Malam 29:

Allah Subhanahuwataala kurniakan kepadanya pahala 1000 kali haji yang mabrur.

Malam 30:

Allah Subhanahuwataala beri penghormatan kepada orang bertarawih pada malam terakhir ini yang teristimewa sekali, lalu berfirman: "Hai hambaKu: Makanlah segala jenis buah-buahan yang engkau ingini hendak makan di dalam syurga, dan mandilah engkau daripada air syurga yang bernama Salsabila, serta minumlah air daripada telaga yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad S.A.W. yang bernama 'Al-Kauthar"."
Read More..

MARHABAN YA RAMADHAN.....ALHAMDULILLAH RAMADHAN DATANG LAGI....


Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi erti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda:

"Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan" (Hr. Ahmad)

Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya.

Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

SPIRITUALISME DAN MATERIALISME. Puasa Ramadhan hakekatnya adalah melatih dan mengajari naluri (instink) manusia yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri perut yang selalu menuntut untuk makan dan minum dan naluri seks yang selalu bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini.

Dalam sejarah manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja.

Orang-orang yang berorientasi materi - terdiri dari orang-orang atheis, komunis dan animisme dan berhalaisme - mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan kenhendak nalurinya dan tak pernah puas. Bila terpenuhi satu keinginannya, timbul keinginan baru begitu seterusnya. Sahwat manusia bila sudah terbakar maka akan mengheret dari sedikit ke yang banyak, dari banyak ke yang terbanyak.

Allah mengecam orang-orang seperti ini: "Biarkanlah mereka makan, dan bersenang-senang, mereka dilalaikan oleh angan-angan dan mereka akan mengetahui akibatnya".(QS Al Hijr 3). Ayat lain: "Orang-orang kafir mereka bersenang-senang dan makan seperti binatang ternak makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya".(QS Muhammad 12)

Mereka hidup di dunia ini dalam keadaan kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, menghalalkan segala cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. "Demikian itu bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong".(QS Ghofir 75) Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa pengabdian kepada Tuhan harus menekan naluri seks mengikis habis pendorong-pendorongnya dan mematikannya yang juga diatasi dengan mengurangi makan. Dengan kata lain mereka masuk dalam kancah peperangan melawan jasad manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala.

Orang-orang Barat dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta kekayaannya untuk memenuhi sahwat jasmaninya. Filsafat spiritualismenya telah lenyap, bahkan gereja-gereja sudah tiada lagi pengunjungnya walaupun pada hari Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia Islam.

Agama Islam adalah agama yang seimbang. Ia menghormati rohani dan jasmani sekaligus, ia memperhatikan nilai-nilai ideal manusia, tapi juga menjamin kebutuhan hidup naluri duniawinya asal dalam ruang keutamaan, ketaatan, kehormatan.

Ia membolehkan manusia makan dengan catatan dalam batas kewajaran dan kehormatan. "Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak diiringi kesombongan".(HR Bikhari)

Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani. "Ya Allah, a ku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan aku berlindung kepadamu dari khianat, karena itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan".(HR Abu Daud)

Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat, "Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan? mereka berkata: 'Keuntungan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini dan akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa".(QS AN Nahl 30)

Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan fisikalnya dengan mandi dan berwudlu, mensucikan jiwanya denga ruku' dan sujud. Islam adalah jasmani dan ruhani, dunia dan akherat dengan falsafah puasa. Islam menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani.

Nilai manusia tidak terletak pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah:

"Ingatlah diwaktu Tuhanmu berkata kepada para malaiakat: "Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kalian kepadanya".(QS ShAd 71-72)

Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan yang memuliakannya atas seluruh makhluknya.

Mereka itu akan bersyukkur kepada pemberi nikmat, sementara ada manusia-manusia yang melupakan Tuhannya, melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya.

Demikian juga halnya kebudayaan. Kebudayaan yang memegang kendali alam sekarang ini telah melupakan Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan menentukan hak-hak manusia disamping hak-hak Allah -kebudayaan Islam-.

Puasa Ramadhan sebagaimana Rasulullah jelaskan dapat mengangkat derajat pelakunya menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku yang indah ditengah-tengah masyarakat. "Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan aib. dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah, 'Aku berpuasa'". (HR. Bukhori).

Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat, mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia dengan wahyu, dan mengaitkan dunia dengan kitab yang menerangi jalannya dan menetukan tujuannya.
Read More..

Jumat, 12 Juni 2009

"MANUSIA BUTUH PEGANYAN YANG KUAT"



Manusia adalah makhluk yang lemah. Manusia butuh pegangan yang kuat. Karena perjalanan dunia ini tidak datar. Kekuatan yang dimiliki hanya sebatas usaha yang sama sekali tidak menentukan. Banyak perkiraan dan rencana matang yang meleset. Karena memang dibalik ini semua ada kekuatan Dzat Maha Kuat yang menentukan.

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.

Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah aku dan jiwa nya berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu ............yang merupakan bagian dari rahmat dan, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan.

Karya:
Saudaraku.....

Read More..

Selasa, 09 Juni 2009

Cinta Mesti Ada Tapi Bagaimana Kita Menyikapinya dengan Bijaksana…….??????


Banyak orang berbicara tentang masalah ini tapi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Atau tidak menjelaskan batasan-batasan dan maknanya secara syari. Dan kapan seseorang itu keluar dari batasan-batasan tadi. Dan seakan-akan yang menghalangi untuk membahas masalah ini adalah salahnya pemahaman bahwa pembahasan masalah ini berkaitan dengan akhlaq yang rendah dan berkaitan dengan perzinahan, perkataan yang keji. Dan hal in adalah salah. Tiga perkara ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang memotivasi untuk menjaga dan mendorong kehormatan dan kemuliaannya.
Cinta insan itu ada batasnya…, penyimpangannya, kebaikannya, dan kejelekannya. Tiga kalimat ini ada dalam setiap hati manusia, dan mereka memberi makna dari tiga hal ini sesuai dengan apa yang mereka maknai
.

1. Cinta (AI-Hubb)

Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir. Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali jika ada cinta dan kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya kecintaan adalah pandangan. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, menganjurkan pada orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai pada kata sepakat dan cinta, seperti telah kami jelaskan dalam bab Kedua.
Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i dari Mughirah bin Su’bah Radhiyallahu ‘anhu berkata ;”Aku telah meminang seorang wanita”, lalu Rasulullah

shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku :’Apakah kamu telah melihatnya ?” Aku berkata :”Belum”, maka beliau bersabda : ‘Maka lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhimya akan lebih menambah kecocokan dan kasih sayang antara kalian berdua’

Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah “cinta”, bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa ‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta, Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,… “,
(Q.S Ali-Imran : 14)


Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Ta’ala tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari’atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam :

“Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti pemikahan .�?

Dan agar orang-orang Islam menjauhi jalan-jalan yang rusak atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama kali agar menundukan pandangan, karena pandangan’ itu kuncinya hati, dan Allah telah haramkan semua sebab-sebab yang mengantarkan pada Fitnah, dan kekejian, seperti berduaan dengan orang yang bukan mahramya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara lelaki dan wanita, karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka bila hati telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu, kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian ; wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat�?
( HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi)


Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’, seperti telah kami sebutkan. Dan keduanya akan dimintai tanggungjawab dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat setelah itu.

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan oleh sebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana akan dijelaskan dalam ucapan kami dalam bab ‘Rindu’. Dan dalam keadaan yang mutlak, sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada bahaya-bahaya yang banyak, namun sangat sedikit mereka yang selamat.


2. Rindu (Al-’Isyq)

Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan. Maka rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji secara mutlak. Tetapi bisa jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai dengan menjaga diri dan kesucian, dan kadang-kadang ada rindu itu disertai kerendahan dan kehinaan.

Sebagaimana telah disebutkan, dalam ucapan kami tentang cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan hati, yang orang tidak mampu menguasainya. Tapi manusia akan dihisab atas sebab-sebab yang diharamkan dan atas hasil-hasilnya yang haram. Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi’ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.

Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai mati karena kerinduan tersebut maka dia mendapatkan pahala syahid di akhirat.

Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan orang yang rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah seorang yang sabar, menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan ada keterkaitan dengan yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia ikat anggota badannya sebab ini di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya dia tidak bisa menguasai maka dia bersabar atasnya dengan sikap afaf (menjaga diri) dan menyembunyikan kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapa pahala.


3. Cemburu (Al-Ghairah)

Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu ternasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik pada laki-laki atau wanita.

Ketika seorang wanita cemburu maka dia akan sangat marah ketik~asuaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya. Sebab perempuan tidak akan menerima madunya karena kecemburuannya pada suami, dia senang bila diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika dia tidak mencintai suaminya, dia tidak akan peduli (lihat pada bab 1). Kita tekankan lagi disini bahwa seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh menolak hukum syar’i tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita terhadap madunya karena gejolak kecemburuan, adapun penolakan dan pengingkaran terhadap hukum syar’i tidak akan terjadi kecuali karena kelalaian dan kesesatan.

Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima hukum-hukum syariat dengan tanpa ragu-ragu, dan dia yakin bahwa padanya ada semua kebaikan dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap suaminya serta ketidaksenangan terhadap madunya.

Kami katakan kepada wanita-wanita muslimah khususnya, bahwa ada bidadari yang jelita matanya yang Allah Ta’ala jadikan mereka untuk orang mukmin di sorga. Maka wanita muslimat tidak boleh mengingkari adanya ‘bidadari’ ini untuk orang mukmin atau mengingkari hai-hal tersebut, karena dorongan cemburu.

Maka kami katakan padanya :
1. Dia tidak tahu apakah dia akan berada bersama suaminya di surga kelak atau tidak.
2. Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.
3. Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski klta tidak mengetahui secara rinci.
4. Surqa merupakan tempat yang kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia, seperti firman Allah Ta’ala :

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaltu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata scbagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan�?
(Q.S As-Sajdah : 17)


Oleh karena itu, tak seorang pun mengetahui apa yang tcrsembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari penyejuk mata sebagai balasan pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan bagi mukmin dan mukminat dari apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan hidangan-hidangan, dan akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya. Maka wajib bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah Ta’ala yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarganya dan kehormatannya, maka hal tersebut ‘dituntut dan wajib’ baginya karena termasuk kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu pada kehormatannya dan kemuliaannya. Dan dengan adanya kecemburuan ini, akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Adapun contoh kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak rela kalau meraka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu saudaranya atau anak-anaknya.

Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini, di jaman kita sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan tetapi akan hilang keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di jaman kita sekarang ini telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan maklum bahwa masyarakat barat umumnya tidak mengenal makna aib, kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena serba boleh (permisivisme), mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka orangorang yang mengagumi pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan pada akhlaq Islam yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan clan keutamaan.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-sifat yang jelek, yaitu Dayyuuts: Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir ; serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dan Abdullah bin Amr , dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman.

Dikutip darikitab Ushulul Mu’asyarotil Zaujiyah, Penulis: Al-Qodhi Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an, Edisi Indonesia “Jilid I�? Penerbit Maktabah Al-Jihad, Jogjakarta

Read More..

Jumat, 08 Mei 2009

Jangan Bersedih! Pilihlah Apa yang Telah Ditentukan Alloh.....



Bangunlah jika Dia membangunkan diri Anda, dan duduklah jika
Dia menyuruh Anda duduk! Bersabarlah ketika Allah menjadikan diri Anda
sebagai orang yang miskin, dan bersyukurlah manakala Dia menjadikan
diri Anda orang yang kaya. Itu semua akan menjadi wujud dari ikrarmiu,
"Aku rela Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad
sebagai nabiku."

Seorang penyair mengatakan,
Janganlah merasa mampu mengatur dirimu
sebab orang yang pandai mengatur pun dapat binasa.
Terimalah Kami jika Kami memutuskan,
sebab Kami lebih berhak dari dirimu. Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia
1. Sadarilah bahwa jika Anda tidak hidup hanya dalam batasan hari
ini saja, maka akan terpecahlah pikiran Anda, akan kacau semua urusan,
dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri Anda.
Inilah makna sabda Rasulullah: "Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore; dan
jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi."
2. Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian
yang terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohan dan
kegilaan.
3. Jangan menyibukkan diri dengan masa depan, sebab ia masih berada
di alam gaib. Jangan pikirkan hingga ia datang dengan sendirinya.
4. Jangan mudah terguncang oleh kritikan. Jadilah orang yang teguh
pendirian, dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri
Anda setara dengan kritikan tersebut.
5. Beriman kepada Allah, dan beramal salih adalah kehidupan yang
baik dan bahagia.
6. Barangsiapa menginginkan ketenangan, keteduhan, dan
kesenangan, maka dia harus berdzikir kepada Allah.
7. Hamba harus menyadari bahwa segala sesuatu berdasarkan
ketentuan qadha' dan qadar.
8. Jangan menunggu terima kasih dari orang lain.
9. Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk.
10. Kemungkinan yang terjadi itu ada baiknya untuk diri Anda.
11. Semua qadha' bagi seorang muslim baik adanya.
12. Berpikirlah tentang nikmat, lalu bersyukurlah.
13. Anda dengan semua yang ada pada diri Anda sudah lebih banyak
daripada yang dimiliki orang lain.
14. Yakinlah, dari waktu ke waktu selalu saja ada jalan keluar.
15. Yakinlah, dengan musibah hati akan tergerak untuk berdoa.
16. Musibah itu akan menajamkan nurani dan menguatkan hati.
17. Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan.
18. Jangan pernah hancur hanya karena perkara-perkara yang sepele.
19. Sesungguhnya Rabb itu Maha Luas ampunan-Nya.

Jangan Bersedih, Karena Masih Ada Sebab-sebab yang
Membuat Musibah Terasa Ringan
1. Menunggu pahala dan ganjaran dari sisi Allah:
{Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala
mereka tanpa batas.}
(QS. Az-Zumar: 10)
2. Melihat kepada orang lain yang mendapat musibah:
Seandainya bukan karena banyak orang di sekitarku yang menangisi
saudara-saudara mereka, pastilah aku akan bunuh diri.
Menolehlah ke kanan dan ke kiri. Apakah yang Anda lihat di sekeliling
hanya orang-orang yang tertimpa musibah dan ujian semua? Seperti itulah.
Di setiap hamparan lembah selalu saja ada Bani Sa'd.
3. Musibah yang menimpa diri Anda itu jauh lebih ringan dibandingkan
dengan yang menimpa orang lain.
4. Musibah itu menimpa hal-hal yang berkaitan dengan dunia saja,
bukan agama.
5. Melakukan ubudiyah dalam sebuah kepasrahan pada saat-saat
tertekan terkadang lebih agung dibandingkan dengan yang dilakukan pada
saat-saat bahagia.
6. Tidak ada siasat untuk menghindarkan musibah:
Tak usahlah berkilah untuk menghindarinya, karena berkilah untuk
menghindar hanyalah menghentikan berkilah itu sendiri.
Read More..

Senin, 06 April 2009

Yang Lalu Biar Berlalu

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa
dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama
artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur
masa depan yang belum terjadi.Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak
pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam
'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan
selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus
cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan
tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup
memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya
menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali,
karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah
payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu!
Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke
tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang
ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda
dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya,
keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda
pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan,
dan sekaligus menakutkan. Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa
depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat
berharga. Dalam al-Qur'an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum
dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, "Itu
adalah umat yang lalu." Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai
pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman
dan memutar kembali roda sejarah.
Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang
yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.
Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang
meratapi masa lalunya demikian: "Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat
itu dari kuburnya." Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang,
sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, "Mengapa
engkau tidak menarik gerobak?"
"Aku benci khayalan," jawab keledai.
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan
dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan
kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puingpuing
yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin
bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah
mustahil pada asalnya.
Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melibat dan sedikitpun
menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air
akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala
sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah
kehidupan!

Kutipa dari : La Tahzan
Read More..

Rabu, 11 Maret 2009

Keraguan Akan Hadirnya……..

Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hati hamba
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan untuk hamba…
Bawalah ia jauh dari pandangan hamba….
Luputkanlah ia dari ingatan hamba…
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisi hamba…
Dan peliharalah hamba dari kekecewaan…….
Serta ya Allah ya Tuhanku yaang Maha Mengerti...
Berikanlah hamba kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke atas langit
Hilang bersama senja nan merah…..dan tutupilah bayangnya dengan kabut malam…sehingga esoknya hamba bisa melihat sang mentari yang Engkau pancarkan indah dilangit nan biru…..dan agar hamba bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah, semikan kembali benih-benih yang telah Engkau karuniakan di hati kami walau mungkin rasanya masih sakit dan tidak sama dengan dirinya.... tapi hamba yakin engkau kan memberikan yang lebih baik dari dia.....

Ya Allah Ya Tuhanku...
hamba pasrah dengan takdir-Mu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan, adalah yang terbaik dan terindah buat hamba karena Engkau Maha Mengetahui segala yang terbaik buat hamba-Mu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemelihara hamba, di dunia dan di akhirat, dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
yang kan menjuruskan hamba ke arah kemaksiatan dan kemungkaran.....
Maka karurniakanlah hamba seorang yang beriman sebagai pemimpin hamba...
Supaya hamba dan ia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah pada kami keturunan yang soleh …..
Amin... Ya Rabbal 'Alamin
Read More..

Bila Aku Jatuh Cinta……!!!

Ya Allah hamba minta izin
Bila suatu saat hamba jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Ya Allah Ya Rabbi
Hamba punya pinta
Bila suatu saat hamba jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat hamba jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Ya Allahu Ya Rabbi
Bila suatu saat hamba jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pinta hamba terakhir adalah seandainya hamba jatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dari hamba
Anugerahkanlah hamba cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Semoga Engkau berkenan mengabulkan permintaan hamba-Mu ini

Amin ya robal alamin…………………….
Read More..

Jumat, 27 Februari 2009

Muhasabah Cinya

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana
seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan
cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti ini
diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama
sekaligus pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya
Kalung Burung Merpati (Thauqul Hamamah), "Cinta itu bagaikan pohon,
akarnya menghujam ke tanah dan pucuknya banyak buah."
Ingatkah saat Anda dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini Anda tengah
mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya.
Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung
dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di
atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas
pesan dengan pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu
mendengar nada panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya
itu, wajahnya seketika merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di
telinganya. Penampilannya pun kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari
perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi pun sekarang lebih
berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah, warna-warni, dan wangi
semerbak.

Lebih mencengangkan lagi, di apartemennya bertebaran buku-buku karya
Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang banyak menghasilkan masterpiece
bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun menjadi penyair yang
mampu menggubah puisi cinta. Sesekali dilantunkannya bait-bait syair.
"Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta mengarus lembut,
mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata air abadi
yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga."

Saya tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak urung
menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai
manusia, wajar jika saya ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai
seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah
lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?

Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya
itu? Bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati?
Apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri
ataukah berupa godaan sehingga harus dibelenggu? Bagaimana sebenarnya
Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi cinta? Tak mudah rasanya
menemukan jawaban dari kontroversi cinta ini.

Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah
majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta
manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta
kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada
sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya
adalah firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 165, "Dan di antara manusia
ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah."

Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai perbedaan dan
garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman
melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan
porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada
Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada
selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.

Islam menyajikan pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang
bagaimana manusia seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan
tertinggi perasaan cinta adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada
Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada sesama makhluk diurutkan sesuai dengan
firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat (yang
mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sedangkan
harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk dicintai
pada tataran yang lebih rendah (QS 9: 24). Subhanallah!

Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan
sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta
seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah,
membaca Al Qur'an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan
mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya
melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa
berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk
berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud.
Betapa indahnya jalinan cinta itu!

Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh Sang Khaliq senantiasa
didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya. Kali ini saya baru
mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala perintah-Nya
dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai
sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa
sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela
agama-Nya.

Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan
tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada
setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu
timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala
membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi,
qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya,
hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang
sempurna... Puji syukur ya Allah, saya menjadi lebih paham sekarang! Cinta
memang anugerah yang terindah dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia
keliru menafsirkan dan menggunakannya. Islam tidak menghendaki cinta
dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta diumbar mengikuti hawa nafsu
seperti kasus sahabat saya tadi.

Jika saja dia mencintai Allah SWT melebihi rasa sayang pada kekasihnya.
Bila saja pujaan hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya.
Dan andai saja gelora cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti
syariat-Nya yaitu bersegera membentuk keluarga sakinah, mawaddah, penuh
rahmah dan amanah... Ah, betapa bahagianya dia di dunia dan akhirat...

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.

Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan

Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:

1) Iman yang kuat

2) Ikhlas dalam beramal

3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.
Wallahua'lam bish-showab
Read More..

Jejak Cinta Sang Sufi Muda

Jika aku harus meneruskan keteranganku tentang Cinta,

Walau seratus kebangkitan berlalu, belum juga purna

Oh Cinta yang memiliki seribu nama dan sebuah mangkuk

Anggur-anggur yang manis! Oh engkau diberkati seribu

Kemampuan

“Maulana Jalaluddin Rumi”

"Datanglah!..Aku ingin memberikannya padamu
sebelum pamit. Aku sekarang memiliki pedepokan disana, tunjukku di langit. Benarkah....?
Ya!, Disana aku punya kebun bunga yang tak mengenal musim, namun entah untuk siapa.
Lalu kita saling membuka album kenangan dan tersenyum tiba-tiba : kita telah menjadi dua"...(R. Timur Budi Raja"


Malam belum mencapai puncak. Seperti biasa, sebelum tidur kusempatkan diri untuk merenung sejenak di atas bentangan sajadah panjang. Bukan untuk meminta sesuatu yang berharga dalam hidup, tetapi sekedar ingin berbincang dengan-Nya, tentang banyak hal yang membuat manusia merasa tidak memiliki satu alasan pun untuk untuk tidak bersyukur. Terlebih lagi tentang gurauan-gurauan-Nya yang dasyat, yang seharusnya membuat orang semakin dekat dengan-Nya, dan bukan sebalik: menuduh-Nya dengan pikiran dan perasaan yang bukan-bukan. Tidak jauh beda dengan manusia, apa yang disebut sebagai Allah pun acap kali menjadi objek bagi kekecewaan dan kegagalan kita dalam memahami hidup, terutama sekali dalam memahami diri kita sendiri. Beberapa saat kemudian, dua kali ketukan pintu dan suar batuk terdengar. Pintu kubuka, dan si pengetuk pintu telah berdiri tepat di depanku. Seperti hari-hari kemaren, tidak ada yang penting bagi tamuku yang satu ini, selain membicarakan perihal perasaan cintanya. Cinta, yang katanya sangat mendalam, sayang yang katanya tidak terukur, dan kenyataan yang katanya melompat jauh dari harapan. Cinta yang tertolak! Dia tidak pernah tahu kapan derita cintanya akan berakhir, sementara disaat yang sama cintanya semakin dalam dan benar-benar tak tertahankan. “Aku mencintainya, dan hanya dialah yang bisa mengatasi semua ini,” katanya dengan suara tersekat di tenggorokan. Untuk kesekian kalinya, aku tidak punya pilihan yang lebih baik, selain mendengarkan penuturannya, sampai tidak ada lagi yang bisa dikatakan. “Siapapun yang merasakan apa yang aku rasakan, pasti akan mengalami hal yang salam sepertiku.” Beberapa hari kemudian ia jatuh sakit. Ketika kuceritakan perihal sakitnya itu kepada orang yang dicintainya, dengan harapan bersedia menjenguknya, ia malah berkata: “Aku tidak akan menjenguk orang sakit yang dibuatnya sendiri” Aku terdiam. Bagaimana bisa, pembunuhan diam-diam tengah berlangsung, dan justru “dilakukan” oleh orang yang diagungkannya melebihi dewi-dewi di kahyangan.

Han telah mampu menikmati tubuh kekasihnya melebihi apa yang diimajinasikannya. Pada awalnya, Han hanya ingin menempatkan kekasihnya itu sebagai pengisi waktu luang yang dapat di desain seerotis mungkin. Namun, belakangan, setiap kali ia menikmati tubuhnya, Han tiba-tiba merasa kasihan, berdosa, dan mengutuki diri sendiri sebagai laki-laki yang jahat. Han bilang, bahwa perempuan itu terlalu baik kalau hanya untuk diperlakukan semacam itu. “Kali ini akulah yang kalah,” katanya. Cinta telah mengalihkan pikiran dan perasaanku dari tujuan semula: yakni hanya sekedar menikmati tubuhnya.”

Rumah sakit jiwa. Seorang gadis berwajah manis dengan jilbab yang menjulur menutupi pundaknya, terlihat histeris dalam kerangkeng. Ia berteriak dan memanggil-manggil dengan suara penuh harap sekelompok perawat pria dan beberapa pengunjung rumah sakit akan menghampirinya. Di antara jendelan kaca yang pecah berserakan, nasi, bungkusan-bungkusan plastik, dan onggokan baju, ia tertawa, menangis, dan sesekali mengalir deras dari bibirnya ayat-ayat suci dan lagu-lagu religius. Menyedihkan! Gadis manis ini tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan pada diri orang yang dia cintai. Ia telah ditinggalkan begitu saja. Cinta telah membuatnya menjadi gadis petualang paling liar yang lupa dengan dirinya sendiri: hidup dalam dunia asing yang tak terpahami, kecuali oleh kegilaannya. Cinta, adalah salah satu sebab yang memaksanya harus mendekam dalam kerangkeng kegilaan.

Mileva adalah penganut Gereja Ortodoks Yunani yang saleh. Konon, keberagamaan Einstein tidak hanya diperoleh dari pendidikannya di masa kecil, tetapi juga dari perkawinannya dengan Mileva, temannya dalam kelas fisika, Ketika mereka terpaksa bercerai, Einstein memanggil mantan istrinya dengan sapaan mesra, “Engkau akan menjadi suci bagiku, yang tidak seorang pun bisa masuk ke situ.” Ketika Einstein memenangkan hadiah Nobel (setelah enam kali diprotes oleh fisikawan yang rasis, berkat temuannya dalam efek fotoelektrik, bukan teori relativitas) ia mengirimkan hadiah uangnya kepada Mileva. 1)

Pada tahun 1201, ketika sedang melaksanakan Tawaf di Ka’bah, Ibn al-Arabi mengalami sebuah pengalaman yang meninggalkan pengaruh kuat dan lama terhadap dirinya, dia melihat perempuan muda bernama Nizam dikelilingi oleh cahaya dan ia menyadari bahwa perempuan yang bernama Nizam itu adalah Hikmat Ilahi. Epifani ini membuat al-Arabi sadar dan meyakini bahwa adalah mustahil baginya mencintai Tuhan jika hanya bersandar pada argumen-argumen rasional . Ia percaya bahwa imajinasi cerdik akan mampu menembus batas fisikal dan rasional sehingga seseorang bisa menangkap dan menyerap segala sesuatu sebagai bagian dari Keindahan Tuhan. Serupa dengan Ibn al-Arabi, sekitar delapan tahun kemudian, Dante Alighieri memperoleh pengalaman serupa di Florence ketika bertemu dengan Beatrice Portinari. Sontak, begitu dia menatap gadis Portinari itu, jiwanya bergetar kuat dan seakan-akan dia mendengar seruan dari dalam dirinya untuk mengagumi bentuk-bentuk kehadiran Tuhan: “Lihatlah Tuhan yang lebih kuat daripadaku yang datang untuk menaklukkan diriku.” Beatrice menjadi citra Ilahi bagi Dante. 2)

PANAMPAKAN

Dari sejumlah contoh di atas, tampak betapa energi yang kita sebut sebagai cinta hadir dalam berbagai bentuk. Cinta pada contoh pertama menyeret seseorang pada krisis eksistensial. Keterpusatan makna dari cinta yang lahir sendiri tanpa keterlibatan obyek cinta telah mengubah realitas objektif atau kenyataan menjadi hampir sepenuhnya subjektif. Ia sulit dan bahkan tidak bisa menerima kenyataan dari cintanya yang tertolak. Penolakan itu justru memperdalam perasaan cintanya. Ia membangun dan menciptakan orang yang dia cintai terus-menerus dan dalam keguncangan psikologis. Sehingga, pikiran, perasaan, dan dinamika di dalam cinta kemudian berkembang melampaui keberadaan dirinya. Di sini, apa yang dianggap oleh banyak orang sebagai kekeliruan, kebodohan, dan kelemahan, justru dirasakan sebagai suatu kebenaran yang nyata dan tak terbantahkan. Sepuluh, dua puluh, atau bahkan seratus orang bisa saja mengatakan bahwa dia disesatkan oleh pikiran dan perasaannya sendiri, namun ia akan tetap berada dalam kesulitan untuk menyelamatkan diri dari cinta yang setiap saat menggerogoti jiwanya. Bisa jadi, ini adalah penyerapan terdalam dari kedalaman perempuan, yang barangkali tak tersingkapkan, kecuali olehnya, atau keagungan dalam diri perempuan, yang bahkan tidak disadari oleh dirinya sendiri.

Pada contoh kedua kita melihat, dimana secara diam-diam dan tanpa sadar terjadi perubahan pikiran dan perasaan dalam diri seseorang. Dari dorongan yang semata-mata seksual menjadi interaksi yang melibatkan beragam dimensi psikologis. Ada hasrat seksual, kesadaran, terbangkitkannya moralitas, rasa kasihan, dan rasa tanggung jawab. Pada kasus ini, meskipun seseorang kesulitan menerima kenyataan psikologisnya, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa sebenarnya ia mulai mencintai seseorang yang sebelumnya tidak lebih dipandang sebagai partner seksual, dan hal itu membuatnya takut, khawatir, cemas, dan tidak lagi melihat hasrat seksual sebagai kebanggaan. Ia tidak percaya dengan cintanya sendiri, di saat dia mulai mencintai, karena memang sedari awal ia tidak hendak memupuk kepercayaan terhadap cinta, kecuali cinta itu memberikan kepuasan seksual baginya. Tapi kali ini, ia mendapati perasaan cinta yang hendak menyelamatkan nilai seseorang dan dirinya sendiri.

Pada kasus ketiga, si gadis sudah terlanjur menempatkan orang yang dia cintai sebagai satu-satunya makna yang tak tergantikan oleh apa pun. Suatu alasan tunggal, yang karenanya hidup layak untuk dilanjutkan. Ia telah menjadi orang lain, menjadi orang yang dia cintai, sementara orang yang dia cintai tidak bisa menjadi dirinya lagi, akibatnya ia terpisah dari dirinya sendiri. Kemudian pada kasus keempat mungkin kita akan bertanya, ada apa sebenarnya di kedalaman diri seorang Mileva sehingga ilmuan besar bernama Einstein perlu menyebutnya sebagai “tempat suci”, meski keduanya telah bercerai. Ada banyak kemungkinan, di antaranya, secara riil keduanya barangkali tidak lagi menemukan kecocokan, dan karenanya hubungan keduanya dalam kehidupan nyata akan banyak diwarnai benturan-benturan yang banyak menyesakkan. Namun, cinta melampaui dan lebih dalam dari pikiran, perasaan, sikap, perbuatan, konflik, dan sejumlah perbedaan, sehingga ruang cinta, ruang keagungan, dan ruang kesucian dalam diri Einstein akan tetap diisi oleh kehadiran dan keabadian sosok Mileva. Keduanya barang kali harus mencintai dan membangun cinta dengan cara dan jalan yang lain. Betapa pun, suatu perpisahan tidak selalu menjadi suatu tanda berakhirnya cinta, bahkan dalam kasus ini perpisahan menjadi bagian dari cinta dan mencintai itu sendiri.

Lebih mengejutkan lagi kehadiran cinta pada diri Ibn al-Arabi dan Dante Alighieri. Ini bukanlah cinta biasa. Wujud dari kehadiran perempuan tidak lagi menjadi keindahan atau keagungan yang menarik jiwa untuk menari dalam ekstase fisikal, tapi menjadi stimulus yang menghentakkan ruh, diri, hati, dan jiwa untuk menatap kehadiran Tuhan. Apa yang dikatakan Ibn al-Arabi mengenai peristiwa itu, jauh menembus lintas batas tempat, ruang, waktu, dan kesadaran. Di sini perlu saya garisbawahi agar tidak disalahpahami, bahwa sependapat atau tidak dengan konsep atau pengalaman yang dikemukakan Ibn al-Arabi dan Dante Alighieri tidaklah terlalu penting, karena demikianlah isi pengalaman batiniah yang menyusup di kedalaman diri seseorang. Suatu konsep pikiran dan perasaan yang agaknya tidak hanya sekadar muncul atas dasar pengalaman, akan tetapi juga tumbuh dari apa yan telah dikatakan Allah: “ Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan semesta dan makhluk-makhluk agar Aku dikenal oleh mereka”. Dan di waktu yang lain Allah juga berfirman : “ Kemanapun engkau palingkan wajahmu kau akan menemukan wajah-Ku. ” Nizam adalah epifani dari wajah Allah yang indah indah bagi Ibn al-Arabi hingga dia merasa begitu perlu untuk mengatakan, bahwa kalau engkau mencintai suatu wujud karena keindahannya, engkau tidak lain mencintai Allah, karena Dia adalah satu-satunya Wujud yang Indah.” Dengan demikian, kata al-Arabi , semua aspek dari objek cinta hanyalah Tuhan. Kita, lanjut al-Arabi, tidak bisa melihat Tuhan itu sendiri, namun kita bisa melihatnya ketika Dia memilih mewahyukan Diri melalui makhluk-makhlukNya, seperti gadis Nizam, yang mengilhami rasa cinta di hati Ibn al-Arabi. “ Nizam, katanya, “telah menjadi objek pencarianku dan harapanku, perawan yang paling murni: banyak hal dari alam batin yang lebih mempesonaku daripada segala yang ada di dalam kehidupan aktual dan karena gadis belia ini aku mengetahui persis apa yang kumaksudkan.“ Imajinasi kreatif telah mengubah gadis Nizam menjadi avatar Tuhan.

Apakah keindahan akan selalu membawa pada kebesaran dan kehadiran Tuhan, adalah pertanyaan yang harus dikembalikan pada bagaimana kita melihat keindahan dan dengan apa kita melihatnya. Setiap kita memiliki penglihatan, pendengaran, dan hati, tetapi tidak setiap kita menyadari kualitasnya, dan bahwa penglihatan, pendengaran, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Dan demikianlah, penjelasan sementara dan sederhana dari sejumlah contoh di atas, yang sudah barang tentu tidaklah sesederhana itu. Yang ingin saya katakan dengan menyuguhkan sejumlah contoh di atas adalah bahwa atas nama, demi, dan oleh cinta, seseorang akan hadir dalam keberagaman pengalaman, dari perilaku unik yang masih dikendalikan kesadaran hingga kegilaan yang terus membangun dirinya sendiri. Dari pemujaan akan seks sampai penangkapan kesucian dan kesadaran. Dan dari kehadiran objektif, spiritual pribadi, yang berpusat pada manusia, sampai pada penghayatan konsepsi imajinatif sufistik tentang Tuhan yang personal. Kalau demikian, lantas apa sebenarnya yang di maksud dengan cinta?

Sumber: The Young Sufi Karya Juwandi Ahmad
Read More..

Jumat, 20 Februari 2009

Downlod Anti Virus Penyakit Hati....., emang ada...???


Downlod Anti Virus Penyakit Hati, EHM....emang ada....???ini ada websitnya...klik ya...

http://.www.Ambillah akar pohon "kefakiran" dan akar pohon "tawadhu" taruhlah kedua akar itu dlm keranjang "taubat". tumbuklah dengan mengunakan lesung "ridho" lalu haluskan dgn serut "qona'ah" (kepuasan hati) masukkan ke dlm kendil "taqwa". campurkan air "malu" kedalamnya. didihkan dgn api "mahabbah" (cinta). dinginkan dgn angin "roja" (pengharapan). minumlah dgn menggunakan sendok "hamdalah".com/

Insya ALLAH akan membantu anda menghapus dosa dan menyembuhkan penyakit hati, saya pun sedang belajar mencoba... mari kita coba lakukan bersama... Sebenarnya ada banyak macam penyakit hati..berikut ini beberapa penyakit hati yang penulis ketahui.

Macam-macam arti penyakit hati dan sifat buruk manusia :

1. Iri HatiIri hati adalah suatu sifat yang tidak senang akan rizki / rejeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung berusaha untuk menyainginya. Iri hati yang diperbolehkan dalam ajaran islam adalah iri dalam hal berbuat kebajikan, seperti iri untuk menjadi pintar agar dapat menyebarkan ilmunya di kemudian hari. Atau iri untuk membelanjakan harta di jalan kebenaran.

2. DengkiDengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena tidak ada orang yang suka dengan orang yang memiliki sifat seperti ini.

3. Hasut / Hasud / ProvokasiHasud adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain agar amarah / marah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian antar sesama.

4. FitnahFitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah suatu kegiatan menjelek-jelekkan, menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti yang kuat.

5. Buruk SangkaBuruk sangka adalah sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas.

6. Khianat / HianatHianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atau mangkir atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik. Orang yang telah berkhianat akan dibenci orang disekitarnya dan kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi untuk mengemban suatu tanggung jawab di kemudian hari.

Wallohu a'lam bi sowam
Read More..

Cinta Dunia Remaja : Tragedi Yang Menyayat Hati

"Guyonan Perasaan"..Tidak ada orang yang boleh mendakwa dirinya lari daripada mainan perasaan. Asal saja ia bernama manusia, maka sekaligus dirinya akan dicuba dengan mainan nafsu yang bagaikan lautan ganas yang begitu kuat bergelombang. Salah satu darinya ialah mainan cinta/Guyonan Perasaan.


"Pesona Cinta"
Kau siramkan wangian mawar putih
Kepada sebuah kenangan yang layu
Bisakah merubah detik-detik yang berlalu
Dari sekadar impian yang kaku

Jiwa terpaut menyaksi
Seribu pengorbanan dihulur
Cinta kasihan bersemi
Mengagung tak disedari
Diimpi tak pasti
Mengharap tak mendakap
Kesetiaan dijunjung
Rupanya tak ke hujung

Lilin yang menyala membakari dirinya
Buat menerangi insan yang memerlukan
Tanpa disedari diri sendiri sirna
Duka nestapa dibiarkan saja

Begini jadinya bila dihamba pesona cinta
Yang buta tak mengenal sebenar sifatnya

Cinta suci bukan untuk dinodai
Kasih jangan dikhianati
Lamarlah belas simpati

Kesucian cinta
Ikhlas tak diundang
Perliharalah?

Begitu apik nasyid yang dilantunkan oleh Hijjaz, tapi tahukah saudaraku.....

Tidak sedikit orang yang terjerumus dalam lembah kenistaan. Dalam berbicara persoalan peringkat pembinaan ‘cinta hawa nafsu’, As-Syauqi pernah berkata :

Benar kata Syauqi, cinta syahwat ini bermula dengan mainan mata yang tidak mempunyai sempadannya, ia kemudiannya diikuti dengan sahutan suara dan saling berhubung. Sampai peringkat tersebut, amat sukar sekali bagi pasangan cinta untuk tidak bertemu dan berdating sekaligus mendekatkan diri kepada aksi yang lebih hebat. Oleh kerana itulah, Islam dalam menjaga kesucian cinta dari dicemari oleh unsur-unsur nafsu meletakkan batasan pandangan seorang muslim dan muslimah. Firman Allah SWT yang bermaksud :

“..Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan…”

(Surah An-Nuur, ayat 30)

Betapa bahayanya cinta lutong ini boleh dilihat apabila pasangan yang dhanyutkan olehnya tidak akan berupaya untuk berfikir secara waras lagi. Setiap detik dan masa yang berlalu tidak akan sunyi dari memikirkan persoalan cinta mereka. Setiap saat, jiwa sudah tidak mampu lagi untuk tenteram sekiranya tidak didodoikan dengan suara halus dan lunak yang berbicara dengan kata-kata yang hanya layak diperdengarkan di dalam kelambu. Sudah berkubur cita-cita perjuangan dan sudah lebur harapan masyarakat yang dipikulkan di atas bahu, yang ada hanyalah kehendak memuaskan hati pasangan masing-masing. Lantas, di saat demikian, layakkah orang yang hanyut ini diharapkan memikul tanggungjawab melaksanakan tugas penting membimbing masyarakat?

Apakah penyelesaian terhadap permasalahan ini? Jalan yang paling baik ialah perkahwinan. Rasulullah SAW pernah bersabda yang bermaksud :

“..Wahai golongan pemuda! Sesiapa di antara kamu yang telah mempunyai keupayaan iaitu zahir dan batin untuk berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin. Sesungguhnya perkahwinan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Maka sesiapa yang tidak berkemampuan, hendaklah dia berpuasa kerana puasa itu dapat mengawal iaitu benteng nafsu..”

(Bukhari : no. 1772, Muslim : no. 2485)

Selain daripada perkahwinan yang tentunya merupakan perkara yang hampir mustahil untuk dilaksanakan dalam dunia seorang penuntut ilmu, maka Rasulullah SAW mencadangkan puasa sebagai jalan terbaik melepaskan diri dari kekangan nafsu yang meronta-ronta. Selain daripada itu, Islam sama-sekali tidak membuka pintu yang lain. Selain daripada perkahwinan, tidak dapat tidak, hanyalah kawalan terhadap jiwa mampu menyelamatkan diri sendiri dari turut terjun dalam arus ganas cinta lutong.

Sesungguhnya cinta sebelum perkahwinan adalah cinta palsu yang walaupun dihiasi dengan rayuan-rayuan halus namun ia adalah panggilan-panggilan ke lembah kebinasaan! Dan sekalipun kekosongan jiwa daripada cinta lutong secara zahirnya adalah penderitaan dan kesunyian yang begitu hebat, namun itulah hakikat cinta sejati kepada Allah. Andainya hati dihiasi dengan rayuan-rayuan syaitan yang seringkali mengajak ke arah melayan perasaan, maka hilanglah di sana cita-cita agung untuk menabur bakti kepada Islam sebagai medan jihad dan perjuangan.

Percayalah, masa muda yang dianugerahkan oleh Allah hanyalah sekali berlalu dalam hidup. Ia tidak akan berulang lagi untuk kali kedua atau seterusnya. Meniti usia remaja dengan berhati-hati dan mengenepikan mainan perasaan adalah merupakan perkara yang amat sukar sekali. Apatah lagi, semakin dihambat usikan perasaan, semakin ia datang mencengkam dan membara. Namun, itulah mujahadah melawan perasaan. Sekadar perasaan dan diri sendiri menjadi musuh, alangkah malunya untuk kita tewas terlalu awal. Usia emas yang diberikan ini alangkah baiknya andainya digunakan sebaik mungkin menggali sebanyak mana anugerah di bumi ilmu.

Namun, kita manusia boleh tertewas bila-bila masa sahaja. Tidak kira siapapun kita. Sekalipun kita arif malah benar-benar mengetahui bahwa yang hadir hanyalah sekadar tipuan, namun kita bisa rebah dalam ketewasan yang kita sendiri sebenarnya merelakannya.

Mengapa manusia lebih memilih syurga dunia dan bertukar dengan syurga sebenarnya di akhirat Oleh yang demikian, apakah mereka tidak berfikir bahwa azab neraka menunggu mereka pada hari pembalasan, dan adakah penyelamat bagi mereka ? Tidak ada, sesungguhnya yang akan menyelamatkan Manusia dari azab neraka adalah keimanan, ketakwaan dan ketawadhuan dan rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Naudzubillah, semoga kita mendapatkan syafaat dan terhindar dari ganasnya neraka jahanam. Amin.

Read More..

Pelajaran Tentang Manhaj Salaf 2/2


Oleh
Asy Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Ubailan
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF

Dalam Masalah Aqidah/Keyakinan

[1]. Dalam masalah pengambilan I'tiqad (keyakinan) mereka membatasi pengambilan hanya dari Kitabullah (Al Qur'an) dan Sunnah hadits) Rasulullah.


[2]. Mereka berhujjah dalam maslah aqidah dengan hadits-hadits shahih, dan mereka tidak membedakan antara hadits Mutawatir (periwayat haditsnya banyak), dengan hadits ahad (periwayat haditsnya hanya satu). Dan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, dimana hadits-hadits tersebut terdapat pembicaraan tentang kesahihannya, tidaklah mereka cantumkan (dalam kitab-kitab mereka) untuk menetapkan pokok-pokok atau dasar-dasar, akan tetapi hanyalah untuk memperlihatkannya sebagaimana mereka tulis hadits-hadits itu dengan sanad-sanadnya.
[3]. Mereka (yang berpegang pada metode salaf) memahami nash-nash (teks-teks ayat dan hadits) berdasar dengan perkataan Salafush Shalih, tafsir-tafsir (keterangan-keterangan) Salafush shlaih, dan nukilan-nukilan mereka.

[4]. Menyerah dan tunduk terhadap wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala (Al Qur'an) dan memberikan pada akal pikiran fungsinya yang hakiki, dan tidak mendalami perkara yang ghaib, yang mana akal tidak sampai padanya.

[5]. Tidak memperndalam dalam ilmu kalam dan falsafah serta menolak penakwilan secara ilmu kalam.

[6]. Mengumpulkan di antara nash-nash pada satu masalah.

BEBERAPA KEISTIMEWAAN AQIDAH SALAF YANG DENGANNYA IA TAMPIL BEDA DARI FIRQAH (KELOMPOK) LAINNYA.

[1]. Aqidah Salaf diambil dari “mata air yang jernih” yaitu Al Qur'an dan Al Hadits jauh dari kotoran hawa nafsu dan subhat-subhat (kesamaran-kesamaran) dan tidak ada ta'wil-ta'wil yang dikutip dari luar.

[2]. Aqidah Salaf akan meninggalkan dalam jiwa rasa tenang dan tentram, dan menjauhkan seorang muslim dari keragu-raguan serta dugaan-dugaan.

[3]. Aqidah Salaf menjadikan kedudukan seorang muslim, sebagaimana kedudukan seorang yang mengagungkan Al Qur'an dan sunnah. Karena ia mengetahui bahwa segala apa yang terdapat dalam Al Qur'an dan hadits (yang shahih) adalah haq yang benar dan pada yang demikian itu terdapat keselamatan yang besar, dan keistimewaan yang besar.

[4]. Aqidah Salaf akan membentuk suatu sifat yang telah diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu sifat yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya" [An-Nisa : 65]

[5]. Aqidah Salaf akan menghubungkan dan mengikat seorang muslim dengan Salafush Shalih.

[6]. Aqidah Salaf akan menyatukan barisan-barisan kaum muslimin dan menyatukan kalimat mereka, karena aqidah Salaf melaksankan firman Allah.

"Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" [Ali Imran : 103]

[7]. Dalam aqidah Salaf terdapat keselamatan bagi orang yang berpegang padanya, serta memasukkannya dalam golongan orang yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kemenangan di dunia, serta keselamatan di akhirat.

[8]. Bahwa berpegang teguh dengan aqidah Salaf adalah salah satu sebab yang terbesar untuk kokoh dalam agama.

[9]. Aqidah Salaf sangat memberi pengaruh yang besar pada perangai dan akhlaq orang yang berpegang teguh padanya. Kemudian aqidah Salaf juga merupakan sebab yang terbesar untuk istiqomah pada agama Allah Subahanhu wa Ta'ala.

[10]. Aqidah Salaf adalah sebab yang terbesar dalam mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan mendapatkan keriadhaanNya kemudian apa telah kita bicarakan ini menggiring kita kepada pembicaraan yang mempunyai hubungan erat dengan pembahasan diatas ; yaitu :

KEKHUSUSAN MANHAJ SALAF

[1]. Kekokohan Salafush Shalih di atas kebenaran dan tidak adanya sikap berpindah-pindah (berbalik) sebagaimana sikap ini adalah adat kebiasaan Ahlul hawa (para pengikut hawa nafsu). Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu berkata kepada Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu:

“Sesungguhnya kesesatan yang benar-benar sesat adalah engkau mengetahui (menganggap baik)apa yang tadinya engkau ingkari, dan engkau mengingakri apa yang tadinya engkau ketahui, hati-hatilah engkau dari sikap yang berganti dalam agama, karena sesungguhnya agama Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah satu”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Secara global (dapat dikatakan) kekokohan dan kemantapan pada ahli hadits dan sunnah. Berlipat ganda dari apa yang terdapat pada ahli kalam dan falasifah".

Yang demikian itu sebagai bukti bahwa apa yang menjadi pijakan mereka adalah kebenaran dan petunjuk.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Sesungguhnya apa yang terdapat pada kaum awam muslimin dan kalangan Ahlus Sunnah Waljama'ah berupa pengetahuan, keyakinan dan ketenangan, tetapnya dalam kebenaran, perkataan yang kokoh dan pasti, adalah perkara yang tidak dapat di ingkari kecuali oleh orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala lenyapkan akal dan agamanya".

[2]. Sepakatnya Salafush Shalih dalam masalah aqidah dan tidak adanya
perselisihan di antara mereka (dalam masalah aqidah) meskipun zaman dan tempat mereka berbeda. Imam Al Asbahani menggambakan sifat ini dengan perkataannya :

"Dan sebagian dalil yang menunjukkan bahwasanya ahli hadits berada di atas al-haq adalah, jika engkau menelaah seluruh kitab-kitab mereka yang ditulis sejak generasi awal hingga generasi akhir, dengan perbedaan negara dan zaman mereka, serta jauhnya jarak tempat tinggal antar mereka, masing-masing mereka tinggal pada benya yang berlainan, kamu akan dapati mereka dalam menjelaskan masalah I'tiqad (keyakinan) mereka berada dalam satu cara dan satu jalan. Mereka berjalan diatas satu jalan dengan tidak menyimpang dan berbelok, perkataan mereka tentang I'tiqad adalah satu, dan keluar dari lisan yang satu. Serta nukilan mereka satu, kalian tidak akan jumpai perbedaan diantara mereka meskipun sedikit. Bahkan jika engkau kumpulkan semua yang pernah terlintas di atas lisan-lisan mereka (yang mereka nukil dari salaf) engkau akan jumpai seakan-akan datang dari hati yang satu dan dari lisan yang satu pula. Maka adakah dalial yang lebih jelas dari yang menunjukkan akan kebenaran (mereka) ?"

[3]. Keyakinan ahli hadits bahwa jalan Salafush Shalih adalah lebih selamat, lebih mengetahui, lebih bijaksana, tidak sebagaimana perkataan yang dida’wahkan ahli kalam, bahwa jalan jalan Salafush Shalih lebih selamat sedangkan jalan khalaf (mereka yang hidup setelah salafus shalih) lebih mengetahui dan lebih bijaksana.

Syaikhul Islam berkata dalam bantahannya terhadap perkara yang dibuat-buat ini : “Sungguh mereka telah berdusta atas jalan Salafush Shalih, dan mereka sesat dalam membenarkan jalan khalaf (mereka yang hidup setelah Salafus Shalih), maka mereka mengumpulkan antara kebodohan terhadap jalan Salafush Shalih dalam berdusta atas mereka dengan kebodohan serta kesesatan dalam membenarkan jalan khalaf”.

[4]. Bahwa Salafush Shalih adalah manusia yang paling tahu pada keadaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, perbuatan dan perkataan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, oleh karena itu mereka adalah manusia yang paling cinta terhadap sunnah Nabi dan manusia yang paling bersemangat untuk mengikuti sunnah Nabi, dan manusia yang paling banyak loyalitasnya (pertolongan dan mengikuti) terhadap
Ahlus Sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Jika Rasulullah adalah makhluq yang paling sempurna dengan yang paling mengetahui hakikat-hakikat, dan yang paling lurus perkataannya dan keadaannya, maka sudah pasti manusia yang lebih mengetahui terhadap Rasulullah adalah makhluq yang lebih mengetahui tentang itu semua, dan adalah manusia yang paling banyak kesusaian dengan Rasulullah dan paling banyak menyontoh beliau adalah makhluq yang paling utama”.

Yang demikian itu akan jelas, bahwa para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling berhak dan yang paling pantas untuk menjadi Tha’ifah Al Mansyurah (kelompok yang mendapat pertolongan) dan Firqatun Najiyah (kelompok yang mendapat keselamatan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Dengan ini akan jelas, bahwa manusia yang paling pantas menjadi Firqah Najiyah (golongan yang selamat) adalah ahli Hadits dan Sunnah, yang mana tidak ada pada mereka manusia yang mereka ta’ashub (fanatik) padanya kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan ahli hadits adalah manusia yang paling mengetahui terhadap perkataan dan keadaan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dan manusia yang paling mampu membedakan antara hadits yang shahih dan hadits yang tidak shahih”.

Dan Imam-Imam ahli hadits adalah orang-orang yang faqih (mengerti) tentang hadits dan ahli dalam mengetahui makna-makna hadits (mereka) membenarkan, mengamalkan dan cinta (terhadap hadits-hadits itu) dan bersikap loyal (memberikan pertolongan dan mengikuti) terhadap orang yang loyal kepada hadits, dan mereka memusuhi terhadap orang-orang yang memusuhi hadits-hadits.

[5]. Dan yang paling istimewa dari keistimewaan Tha’ifah Al Mansyurah (kelompok yang selamat) adalah semangat mereka dalam menyebarkan aqidah shahihah dan agama yang lurus ini, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus para Rasul-Nya membawa agama Islam ini, dan keistimewaan yang lain adalah mengajar dan menunjuki manusia, serta menasihati mereka, disamping itu juga membantah orang-orang yang menyelisihi, serta membantah yang ahli bid’ah.

[6]. Para Salafush Shalih berada pada sikap ditengah-tengah diantara firaq (kelompok-kelompok, Syaikhul Islam Ibnu Tiamiyyah berkata : “Posisi ahli sunnah dalam agama Islam seperti keadaan ahli Islam di antara agama-agama lain”.

Kemudian beliau menjelaskan di tempat lainnya tentang sikap (posisi) ahli sunnah yang berada di tengah-tengah, beliau berkata :

[a]. Mereka berada di tengah-tengah dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu antara Ta’til (mereka yang menolak adanya sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan ahli Tamsil (mereka yang menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala), dengan sifat makhlukNya.
[b]. Dalam masalah keyakinan terhadap ancaman dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka berada di tengah antara kelompok Murji’ah dan kelokpok Qadariyyah dan selain mereka.
[c]. Dalam masalah yang membahas iman dan agama berada di tengah antara kelompok Khawarij serta Murji’ah dan Jahmiyyah.
[d]. Dalam masalah Shahabat-Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di tengah antara kelompok Syi’ah Rafidhah dan kelompok Khawarij.

[7]. Keistimewaan dari manhaj Salaf (yang lain) adalah sikap para Salafush Shalih yang berpegang teguh pada nama-nama dan istilah-istilah yang berdasarkan syari'at.

[8]. Keistimewaan yang lain, para Salafush Shalih sangat bersemangat untuk berjama’ah serta bersatu, dan mereka menda’wahkan untuk itu, serta menganjurkan manusia padanya, dan membuang sikap perselisihan dan perpecahan, lalu memperingatkan manusia darinya, hal ini bisa dilihat dari nama mereka yang masyhur adalah "Ahlus Sunnah Wal Jama'ah" (orang yang mngikuti Sunnah dan berjama'ah/bersatu) dan hal ini sebagaimana terdapat dalam pokok-pokok ilmu (ajaran mereka), demikian juga hal terwujud dalam kehidupan mereka dengan bukti nyata, diwujudkan dalam kehidupan mereka dengan bukti nyata, diwujudkan dan dan diamalkan.


Selesai dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan shalawat serta salam (kita sampaikan) kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.


[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirrah Al-Islamiyah, edisi Th I/No : 05/1424/2003, Terjemahan dari Majalah Al-Ashalah edisi 23 hal 33]
Read More..